lingkungan

Showing posts with label lingkungan. Show all posts
Showing posts with label lingkungan. Show all posts

BPBD Bengkalis Sebut 450 Hektar Lahan Terbakar, Terbanyak di Pulau Rupat

February 24, 2019
BENGKALIS, RUPAT - Sampai akhir pekan ini setidaknya masih ada tiga titik yang masih dilakukan pemadaman oleh tim gabungan.Tiga titik tersebut diantaranya Rupat, Siak Kecil dan Pulau Bengkalis. Kepala Pelaksana BPBD Bengkalis Tajjul Mudaris mengungkapkan, sampai Sabtu kemarin luas lahan yang terdata sudah terbakar sekitar 450 hektare sejak awal tahun ini.

Hampir seluruh kecamatan sempat terjadi kebarakan lahan di Bengkalis sejak Januari lalu. Secara rinci luas lahan terbakar terbanyak terjadi di kecamatan Rupat, lahan yang sudah terbakar mencapai sekitar 305 hektare.

Dari luas tersebut sudah membakar beberapa desa. "Diantaranya Desa Darul Aman, Sukarjo Mesim, Batu Panjang, Teluk Lecah, Sri Tanjung, Pergam dan Terkul. Beberapa diantaranya masih dilakukan upaya pemadaman," jelas Tajjul. 

Kemudian lahan terbakar yang cukup luas juga terdapat di kecamatan Siak Kecil. Dengan luas lahan terbakar sekitar 71 hektare, yang terjadi di tiga desa, diantaranya Lubuk Gaung, Muara Dua, dan Bandar Jaya.

Sementara di kecamatan Bantan luas lahan yang terbakar sejak awal Januari sebanyak 20 hektare. Dengan empat kejadian di empat desa diantaranya Pambang, Bantan Sari, Mentayan dan Kembung. Selanjutnya untuk kecamatan Tualang Mandau sejak Januari lahan yang terbakar sebanyak 32 hektare.

Yang terjadi di dua desa yakni desa Koto Pait Beringin dan Tasik Serai Barat. Sedangakabeberapa kecamatan lainnya kebakaran lahan yang terjadi sejak Januari hingga saat ini kisaran delapan hingga setengah hektar. "Kecuali kecamatan Bandar Laksamana yang belum ditemukan adanya Karhutla," tandasnya.

Sebagaimana diberitakan Tribunpekanbaru.com, Sabtu (23/2/2019) pukul 13.00 WIB kemarin, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto beserta rombongan, berangkat ke Pulau Rupat Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau.

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto beserta rombongan, ikut memadamkan api di lokasi Karhutla di Pulau Rupat Kabupaten Bengkalis, Riau,Sabtu (23/2/2019) siang. Rombongan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto berangkat dari Lanud Roesmin Nurjadin dengan menumpang 2 unit helikopter langsung ke Pulau Rupat.

Pulau Rupat di Kabupaten Bengkalis merupakan satu dari tiga daerah di Riau yang tingkat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) paling parah. Didampingi sejumlah petinggi TNI dan Polri serta jajaran pemerintah daerah dan stake holder lainnya, Panglima TNI dan rombongan bergerak ke lokasi titik api, tepatnya di Kelurahan Terkul.

Perjalanan menuju lokasi tidak mudah. Bahkan informasinya untuk mencapai ke sana, rombongan harus menempuh perjalanan dengan sepeda motor dinas, lalu berjalan kaki hingga sampai di lokasi terjadinya kebakaran.

Kepulan asap yang muncul dari lahan yang terbakar cukup pekat, ditambah cuaca terik, Marsekal Hadi Tjahjanto dan anggota rombongan harus mengenakan masker. Bermodalkan mesin penyemprot air, Panglima TNI dan rombongan ikut berjibaku memadamkan api.

Sebelumnya, petugas darat sudah lebih dulu melakukan upaya pemadaman di lokasi, selama beberapa hari belakangan. Panglima menyatakan, kedatangannya ke Riau untuk menangani Karhutla adalah intruksi dari Presiden RI Joko Widodo.(dow)

Konflik Lahan di Peranap, Sekda Inhu Minta Perusahaan Serahkan 3.600 Hektar

February 16, 2019
INDRAGIRI HULU, PERANAP - Konflik lahan di Peranap, Indragiri Hulu, Riau, Sekretaris Daerah (Sekda) Inhu minta perusahaan serahkan 3.600 hektar untuk tanaman kehidupan. Pemerintah Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) memediasi penyelesaian konflik lahan antara PT Citra Sumber Sejahtera dengan warta Desa Pauhranap, Kecamatan Peranap, Kabupaten Inhu.

Rapat mediasi itu dilakukan pada Kamis (14/2/2019) siang sekira pukul 11.30 Wib hingga pukul 13.00 Wib di ruang rapat lantai empat kantor Bupati Inhu. Rapat mediasi itu dipimpin oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Inhu, Hendrizal dan didampingi oleh Dandim 0302 Inhu, Mayor Inf S Nababan dan Kapolsek Peranap serta Danramil 05 Peranap.

Pada kesempatan itu, Hendrizal meminta agar PT CSS menyerahkan lahan 3600 hektar lahan tanaman kehidupan yang menjadi kewajiban perusahaan.

"Ada lahan 3600 hektar yang menjadi kewajiban perusahaan untuk diserahkan kepada masyarakat, karena itu nanti kita minta kepala dusun untuk mendata lahan-lahan warga yang termasuk dalam areal PT CSS," kata Hendrizal, Kamis (14/2/2019).

Berdasarkan rapat tersebut diketahui bahwa rata-rata luas lahan yang dimiliki warga berkisar dua hingga empat hektar. Meski menurutnya ada sejumlah pemodal yang memiliki lahan puluhan hektar di lokasi tersebut.

Selain itu, Hendrizal juga menyampaikan agar PT CSS menghentikan aktifitas di areal lahan warga dan tidak melakukan pengrusakan terhadap tanaman milik warga. Tujuannya untuk meredam konflik dan menjaga kondusifitas daerah jelang pelaksanaan Pemilu 2019 yang semakin dekat.

"Kalau ada yang melakukan pengrusakan lahan, sebaiknya ditangkap saja serahkan kepada aparat penegak hukum," tegas Hendrizal.

Sementara itu, terkait legalitas surat tanah yang dikeluarkan oleh desa, Hendrizal meminta agar hal ini diselesaikan melalui proses hukum. Pasalnya menurut Hendrizal tidak boleh ada lagi surat tanah yang diterbitkan semenjak tahun 2003. Hasri, selaku manager PT CSS mengaku pihaknya berkomitmen akan menyerahkan 3600 hektar lahan dari areal mereka untul tanaman kehidupan.

"Komitmen kami untuk tanaman kehidupan itu sudah tercantum pada SK Mentri, tinggal mengalokasikan saja dan bagaimana verifikasi di lapangan nanti," kata Hasri.

Sementara itu, PT CSS juga membantah bahwa pihaknya melakukan pengrusakan terhadap tanaman masyarakat.

"Perusahaan tidak pernah menginstruksikan untuk melakukan pengrusakan tanaman," kata Hasri.

Namun warga yang hadir mengatakan mereka memiliki bukti bahwa karyawan PT CSS yang melakukan pengrusakan terhadap tanaman warga. Sementara itu, Siahaan salah seorang perwakilan warga menyampaikan 3600 hektar yang akan dibagi itu tidak akan cukup untuk dibagi dengan warga pemilik lahan.

"Kalau dibagi takutnya gak cukup dengan jumlah yang ada di sana," kata Siahaan.

Hal ini dikarenakan sebagian pemilik lahan di areal sengketa tersebut sudah menguasai lahan hingga puluhan hektar. (dow)

source : berita inhu

Hasil Kajian Tata Kelola Gambut Jadi Acuan untuk Pengelolaan TORA

February 16, 2019
SIAK, MEMPURA - Hasil kajian tata kelola gambut jadi acuan untuk pengelolaan Tanah Objek Reforma Agraria (TORA). Seluas 4.000 Ha Tanah Objek Reforma Agraria (TORA) di kabupaten Siak rata-rata berlahan gambut. Meski sudah ada pemilik sesuai pembagian negara, namun pengelolaannya masih dalam kajian Pemkab Siak dan Badan Restorasi Gambut (BRG).

Pemkab Siak bersama BRG sedang mepersiapkan inovasi pengelolaan lahan tersebht. Rencananya berbasis aerohydrologi pada lahan program TORA di Kabupaten Siak. Rabu (13/2/2019) Pemkab Siak bersama BRG melaksanakan kegiatan forum diskusi Riset Pengelolaan Kesatuan Hydrologi.

Untuk Optimalisasi Pengembangan Komoditas Ramah Gambut pada lahan program TORA, di Hotel Grand Mempura, Siak. Hasil riset tersebut bakal menjadi acuan untuk pengelolaan lahan bergambut.

Deputi IV Badan Restorasi Gambut Dr. Haris Gunawan menyebut rapat riset tersebut sebagai bagian dari upaya sosialisasi dan koordinasi terkait program Desa Peduli Gambut. Kemudian membahas sejumlah agenda BRG lainnya sesuai kepentingan strategis daerah dan desa sasaran.

"BRG merupakan lembaga yang ditugaskan untuk memulihkan gambut dengan merangkul semua pihak agar bisa dikelola dengan melibatkan para ilmuan. Tantangan kita kedepan adalah menemukan inovasi dan terobosan yang sesuai dengan kebutuhan dan semangat daerah dalam pengelolaan gambut di Siak" kata Haris Gunawan.

Pihaknya semangat melaksanakan riset dengan harapan hasilnya dapat menjadi terapan di Siak, sehingga lahan TORA yang akan dinikmati warga tidak merusak ekosistem gambut, namun tetap memberikan hasil kepada warga.

Wakil Bupati Siak Alfedri menyebut kabupaten Siak menjadi salah satu daerah yang menjadi target program restorasi gambut BRG. Karena Siak memiliki kawasan gambut yang cukup luas. Untuk itu kajian-kajian yang dilakukan dapat diimplementasikan menjadi suatu kebijakan yang tepat kelola dan manfaatnya dapat dirasakan masyarakat.

"Harapan kami hasil kajian selama 3 bulan ini dapat dijadikan acuan yang dalam menetapkan langkah strategis terhadap budidaya komoditas ramah gambut, yang menghasilkan peningkatan ekonomi masyarakat," kata Alfedri.

Pada diskusi tersebut juga hadir Tim Ahli Riset Hydrologi dan Pemetaan, Prof Indratmo, Dr. Sigit, Dr. Budi, Dr. Prayoto serta dari Tim Riset Komoditas Dr. Nurul Qomar, dan Ir. Bastoni, BPTP Riau dan Tim Riset Keekonomian, serta pejabat Asisten Pemerintahan dan Kesra L. Budhi Yuwono. (dow)

source : berita siak

Enam Desa di Kecamatan Peranap dan Batang Peranap Terendam Luapan Air Sungai

February 07, 2019
INDRAGIRI HULU, PERANAP - Hujan yang melanda wilayah Kecamatan Peranap dan Kecamatan Batang Peranap, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) selama dua hari belakangan mengakibatkan meluapnya air sungai dan merendam sejumlah desa di dua kecamatan tersebut. Informasi yang diterima awak media, diketahui sebanyak enam desa terendam di Kecamatan Peranap dan Batang Peranap.

"Hujan lokal yang melanda Kecamatan Peranap dan Kecamatan Batang Peranap, menyebabkan air sungai meluap sehingga merendam halaman rumah warga," kata Kepala Kantor Penanggulangan Bencana Daerah (KPBD) Inhu, Widodo, Rabu (6/2/2019).

Widodo menambahkan curah hujan di Kecamatan Peranap dan Kecamatan Batang Peranap selama dua hari kemarin terbilang cukup tinggi. Di Kecamatan Batang Peranap terdapat lima desa yang terendam, diantaranya Desa Pematang dengan jumlah rumah yang terendam sebanyak 40 rumah, di Desa Pematang Benteng sebanyak 10 rumah yang terendam.

Kemudian di dusun satu dan dusun dua Desa Pesajian, sebanyak 75 rumah yang terendam banjir, Dusun Serangge, Desa Punti Kayu sebanyak 70 rumah yang terendam banjir, Dusun Timber, Desa Punti Kayu sebanyak 50 rumah yang terendam dan satu rumah di Desa Peladangan.

Sementara itu, di Kecamatan Peranap terdapat 190 rumah di Desa Setako Raya yang terendam banjir. "Air hanya merendam halaman warga, sehingga tidak ada warga yang diungsikan," kata Widodo.

Ketinggian air pada Rabu (6/2/2019) sore juga sudah surut. Meski begitu, masih ada halaman warga yang kini masih terendam. Menurut Widodo air sungai di wilayah Kecamatan Peranap dan Kecamatan Batang Peranap diprediksi juga akan terus surut, seiring pergerakan air dari hilir sungai menuju hulu. (dow)

source : berita inhu

Setiap Rumah Tangga Dipungut Retribusi Sampah di Indragiri Hulu

January 22, 2019
INDRAGIRI HULU, RENGAT - Setiap rumah tangga dipungut retribusi sampah di Indragiri Hulu, ini besar tagihannya dan akan mulai diberilakukan tahun 2019 ini oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Tahun 2019 ini DLH Indragiri Hulu (Inhu) resmi menangani pengelolaan sampah di Kabupaten Inhu.

Oleh karena itu, DLH Inhu mulai melakukan sosialisasi ke sejumlah kecamatan berkenaan dengan retribusi sampah yang akan diterapkan. Kepala DLH Inhu, Selamat menerangkan penerapam retribusi sampah itu sesuai dengan Peraturan Daerah nomor 01 tahun 2012.

Sesuai dengan Perda tersebut dirincikan besaran retribusi untuk setiap objek. Untuk rumah tangga diterapkan retribusi Rp 2000 per bulan. Sementara yang paling tinggi adalah Rumah Sakit (RS) swasta dan klinik swasta sebesar Rp 50 ribu per bulan.

Selain itu, dalam Perda tersebut juga diatur pungutan untuk lembaga pemerintah dengam besaran yang berbeda dengan lembaga swasta, yakni Rp 20 ribu untuk perkantoran pemerintah dan klinik pemerintah dan Rp 25 ribu untuk RS pemerintah.

Selamat berkata retribusi itu akan mulai dipungut dalam waktu dekat. DLH Inhu saat ini masih menunggu penandatanganan SK pejabat yang ditunjuk untuk mengelola pungutan tersebut.

"Pejabatnya harus di SK kan oleh Bupati, sudah diajukan tingga tunggu turun," kata Selamat.

Selamat menerangkan retribusi itu diharapkan mampu mendongkrak pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Inhu. Seperti yang disampaikannya PAD dari retribusi sampah diperkirakan mencapai Rp 300 juta.

Namun Selamat berkata pungutan retribusi tersebut masih belum bisa diterapkan di seluruh kecamatan. Pasalnya sosialisasi belum dilakukan di seluruh kecamatan. Selain itu, jumlah penduduk yang besar dan wilayah yang luas sehingga belum mampu dijangkau semua petugas.

Untuk tahap awal ini sejumlah wilayah yang menjadi prioritas pungutan retribusi sampah tersebut adalah Kecamatan Pasir Penyu, Kecamatan Rengat, Kecamatan Seberida, Kecamatan Peranap, Kecamatan Rengat Barat, dan Kecamatan Lirik. (dow)

source : berita inhu

Beralasan Banjir, Sidang Konflik PT BBSI Ditunda

December 18, 2018
INDRAGIRI HULU, RENGAT - Pengadilan Negeri atau PN Rengat kembali menunda sidang gugatan Yayasan Riau Madani terhadap PT Bukit Betabuh Sei Indah atau BBSI, pada Senin (17/12/2018). Penundaan sidang tersebut karena pihak PT BBSI tidak hadir.

Hal ini dibenarkan oleh Ketua Yayasan Riau Madani, Surya.

"Sidangnya ditunda, karena pihak PT BBSI tidak hadir. Alasannya karena banjir di Pelalawan," kata Surya ketika dikonfirmasi melalui selular, Senin (17/12/2018).

Surya juga menjelaskan pascamediasi yang gagal, sudah digelar sejumlah agenda sidang antara lain sidang replik dan duplik. Selanjutnya akan digelar sidang pembuktian. Sementara itu, saat ini masyarakat di Talang Tujuh Buah Tangga masih terus berkonflik dengan PT BBSI. 

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, bahwa Yayasan Riau Madani melayangkan gugatan legal standing terhadap PT Bukit Betabuh Sei Indah (BBSI) atas perizinan yang dikeluarkan oleh Bupati Inhu dan Mentri Kehutanan pada tahun 2002 dan tahun 2007.

Seperti diketahui saat ini PT BBSI sedang berkonflik dengan masyarakat Desa Talang Tujuh Buah Tangga, Kecamatan Rakit Kulim, Kabupaten Inhu. Aziz, salah seorang perwakilan warga menyambut baik gugatan yang dilayangkan oleh Yayasan Riau Madani tersebut.

"Kita memang sempat berdiskusi dengan Yayasan Riau Madani terkait penderitaan masyarakat selama ini, dalam hal ini kita memang tidak memiliki kaitan dengan Yayasan Riau Madani namun mereka simpati terhadap penderitaan masyarakat," katanya kepada Wartawan, Jumat (6/4/2018).

Bahkan kata Aziz, pihaknya dalam waktu dekat juga sudah menyiapkan gugatan yang akan disampaikan ke PN Rengat.

Aziz menerangkan gugatan yang mereka layangkan berbeda dengan gugatan Yayasan Riau Madani. "Gugatan yang akan kita sampaikan adalah gugatan perbuatan melawan hukum oleh PT BBSI," katanya.

Seperti diketahui bahwa persoalan antara masyarakat Desa Talang Tujuh Buah Tangga dengan PT BBSI hingga kini masih belum menemukan jalan keluar. Padahal pihak Pemkab Inhu sudah berulang kali melakukan mediasi, namun tidak membuahkan hasil.(dow)

source : berita inhu

Sungai Mengkaseh Tercemar Limbah Perusahaan Sawit

December 18, 2018
INDRAGIRI HILIR, KEMUNING – Masyarakat Desa Keritang, Kecamatan Kemuning, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) mengeluhkan aktifitas pembuangan limbah ke aliran Sungai Mengkaseh oleh PT  Putra Keritang Sawit.

Menurut masyarakat setempat, aktifitas pembuangan limbah ke sungai sudah sering terjadi, bahkan untuk tahun ini saja sudah lebih 10 kali limbah di buang ke sungai.

Hal ini sangat meresahkan karena masyarakat sekitar sangat membutuhkan air sungai itu. Ikan yang biasa banyak dan dapat memenuhi kebutuhan warga sudah tidak ada lagi.

“Semua sudah musnah. Kami warga sini sangat berharap agar sungai kami kembali seperti semula yang dapat kami manfaatkan. Kami warga jadi menduga ada kongkalikong pihak perusahaan dengan oknum pejabat di lingkungan pemerintahan baik Desa, Kecamatan, maupun Kabupaten. Atau siapapun oknum itu,” ujar Agus seorang warga yang tinggal di sekitar sungai kepada awak media, Rabu (12/12/2018).

Menurut Agus, limbah tersebut terus menerus di buang ke sungai tanpa merasa bersalah, oleh karena itu dirinya dan masyarakat lain berharap agar perusahaan tersebut bertanggung-jawab dengan semua kerusakan yang ada akibat limbah itu", ungkap Agus dengan nada kesal.

Sementara itu, Kepala Desa Keritang, Nazarudin, membenarkan hal tersebut dan mengaku sudah berulang kali menyampaikan keluhan warga tentang limbah kepada pihak perusahaan.

Namun menurutnya, keluhan tersebut sepertinya tidak juha di gubris oleh pihak perusahaan, sehingga Nazarudin berusaha agar warga jangan sampai berbuat anarkis.

“Syukurlah warga masih mau menuruti nasehat saya. Jadi saya minta perusahan segera memperbaiki kinerjanya, agar jangan sampai menimbulkan hal-hal yang tak di inginkan,” tegas Nazarudin.(dow)

Mengintip Surga Penyu ke Pulau Jemur Rohil

December 04, 2018
ROKAN HILIR, SINABOI - Festival Bakar Tongkang hanya ada satu di dunia. Dan itu menjadi agenda wisata budaya tahunan di Bagansiapiapi, Kabupaten Rokan Hilir (Rohil). Keunikannya menjadi dayak tarik untuk mendatangkan wisatawan asing maupun domestik. Tak puas dengan itu, Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir tengah gencar mengembangkan potensi wisata lainnya yang ada di wilayahnya, baik wisata alam ataupun wisata sejarah.

Bupati Rokan Hilir, H. Suyatno mengatakan saat ini pemerintah tengah gencar mempromosikan wisata alam Pulau jemur ke dunia internasional. Menurut Suyatno pulau Jemur punya keunikan tersendiri, karena di sana merupakan tempat tinggal dari penyu hijau, yang masuk dalam kategori langka.

"Di pulau Jemur itu tiap tahun ada musim penyu bertelur, seperti bulan ini, penyu-penyu kedaratan untuk bertelur, penyunya pun berbeda, kalau di pulau jemur, penyunya warna hijau, penyu hijau," kata Suyatno, beberapa waktu lalu.

Dia menjelaskan saat ini Pemkab Rokan Hilir telah membuka jalur untuk kapal ferry agar wisatawan dapat dengan mudah mengakses ke Pulau Jemur. Suyatno optimis Pulau Jemur dapat menarik perhatian wisatawan karena menawarkan keindahan dan penyu hijaunya. Apa lagi pulau jemur hanya berjarak 63 km dari pelabuhan Kla, pelabuhan utama milik Malaysia.

Selain itu, Suyatno juga tengah menggencarkan untuk wisata sejarah. Seperti Menara Air peninggalan Belanda yang berada di Jalan Siak, Bagansiapiapi.

"Kita juga akan merenovasi menara air, bangunan bersejarah peninggalan Belanda, agar dapat dinikmati para wisatawan," pungkas Suyatno, dilansir dari media lokal, kemarin.(hum13)

Sempena Hari Agraria 2018, Suyatno Apresiasi Tak Ada Lagi Lahan Tumpang Tindih

December 04, 2018
ROKAN HILIR, BAGAN BATU - Bupati Rokan Hilir, Suyatno, AMp memberikan apresiasi kepada Badan Pertanahan Nasional yang sudah bertungkus lumus mendata tanah yang ada di seluruh Kabupaten Rokan Hilir sehingga tidak terdapat lagi tumpang tindih lahan. Menurutnya, apa yang sudah tercapai selama ini harus selalu ditingkatkan.

"Atas nama Pemkab, saya mengucapkan terimakasih Pak Rocky dan seluruh jajaran yang telah membuat terobosan. Beliau di Bagan Sinembah untuk melakukan pendataan tanah, perorangan maupun perusahaan," kata Bupati Rohil Suyatno.

"Selama pendataan, semua berjalan dengan lancar, aman tertib sehingga tanah yang ada bisa diketahui siapa pemiliknya, tak ada lagi data doubel atau tumpang tindih," kata Bupati Suyatno ketika menjadi pembina dalam peringatan hari Agraria dan Tata Ruang Nasional 2018 yang diperingati Badan Pertanahan Nasional (BPN) Rohil berpusat di depan kantor Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Rohil, Senin (24/9/2018) di Bagansiapiapi, Kabupaten Rokan Hilir, Riau.

Ia mengharapkan apa yang telah dicapai di salah satu Kepenghuluan di Kecamatan Bagan Sinembah itu dapat terus ditingkatkan dan diperluas ke daerah lain sehingga seluruh Kecamatan atau wilayah Rohil terdata areal tanah/bidang yang ada.

Bupati Rohil Suyatno yang membacakan pidato sambutan Menteri Agraria dan Tata Ruang/ Kepala Badan Pertanahan Nasional, menyebutkan dengan momen tersebut diharapkan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk berperan aktif ikut dalam menyukseskan program terkait dengan tata ruang.
"Sukseskan program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL), dimana jumlah bidang tanah yang diteragetkan mencapai 126 juta bidang dan diharapkan tercapai pada 2025 seluruh bidang tanah telah terdata," kata Bupati Rohil H. Suyatno.

Pendataan terhadap seluruh bidang tanah terus dengan berbagai upaya percepatan, langkah itu didukung optimalisasi penggunaan teknologi terkini sesuai dengan yang ada di Kementerian. Disamping itu penting pembangunan infrastruktur guna mendukung produktifitas yang berdaya saing nasional. "Dukungan Pemerintah Provinsi, Kabupaten/Kota sangat menentukan suksesnya kegiatan tersebut," baca Bupati Rohil.

Pada kesempatan itu Bupati Rohil H. Suyatno secara terang-terangan memberikan pujian kepada Kepala BPN Rohil HM Rocky Soenoko yang dinilai berprestasi dan memiliki komunikasi yang baik dengan Pemkab.

Peringatan tersebut mengambil tema peringatan hari Agraria, Tanah dan Ruang untuk Keadilan dan Kemakmuran, diikuti jajaran Kepala Dinas, Organisasi Perangkat Daerah (OPD) se-Rohil, Kepala BPN Rohil HM Rocky Soenoko, Kajari Rohil Gaos Wicaksono, SH. MH, Dandim 0321/Rohil Letkol Inf Didik Efendi, Sekdakab Drs. H. Surya Arfan, M.Si, dan jajaran Forkopimda. Para pegawai lingkup Dinas Rohil serta pegawai kantor BPN Rohil.

Pada kesempatan itu juga dilakukan penyerahan tanda kehormatan Satya Lencana Karya Satya yang diberikan kepada salah satu pegawai dengan masa bakti 10 tahun, penghargaan tersebut sebelumnya langsung ditandatangani oleh Presiden RI Joko Widodo. (adv13)

Sektor Perkebunan di Rokan Hilir Sangat Menjanjikan

December 03, 2018
ROKAN HILIR, TANAH PUTIH - Perkebunan di Kabupaten Rokan Hilir memiliki potensi yang sangat tinggi jika dibandingkan dengan sektor lainnya. Wilayah perkebunan yang sangat luas di Kabupaten Rokan Hilir menjadi salah satu faktor pendorong tingginya produktifitas komoditas perkebunan. Produktifitas perkebunan yang ada di Kabupaten Rohil terdiri dari komoditas kelapa sawit, Kelapa, Karet, Kopi, Pinang dan Cokelat.

Karet merupakan komoditas perkebunan yang mempunyai potensi untuk dikembangkan menjadi tanaman perkebunan unggulan. Perkebunan karet di Rokan Hilir memiliki potensi luasan yang cukup tinggi dan tersebar di seluruh Kecamatan.

Karet yang dihasilkan oleh Rokan Hilir menurut masyarakat dijual ke Pekanbaru dan Sumatera Utara. Hal ini dikarenakan Rokan Hilir belum memiliki pabrik pengolahan karet sendiri. Harapan masyarakat adalah pemerintah kabupaten Rokan Hilir dapat mendirikan pabrik pengolahan karet, sehingga pemasaran tidak terlalu jauh dan dapat meminimalisir biaya transportasi. Selain itu produksi karet setengah jadi (ojol) di Rokan hilir juga tergolong tinggi. Informasi dari masyarakat di daerah Tanah Putih menyebutkan bahwa produksi ojol dapat mencapai 200 ton/minggu, untuk wilayah lain bisa mencapai 500-1000 ton/minggu.

Komoditas unggulan lainnya di Rokan Hilir yaitu Kelapa merupakan tanaman yang mempunyai fungsi ekonomis tinggi. Hal ini disebabkan semua bagian tanaman kelapa apabila diolah lebih lanjut dapat dijual. Mulai dari akar, batang, daun hingga buahnya dapat dimanfaatkan menjadi barang yang memiliki nilai ekonomis. Sebagai contoh adalah manfaat ekonomis dari bagian buah kelapa. Buah kelapa dapat diolah menjadi kopra, minyak kelapa, bahan makanan dan virgin coconut oil (VCO). Saat ini VCO merupakan produk yang sedang digemari di pasaran.

Wilayah yang memiliki perkebunan kelapa terluas berada di wilayah kepulauan dan berpantai sehingga banyak didominasi oleh tanaman kelapa. Untuk daerah dengan luasan dan produksi kebun kelapa paling rendah adalah pada Kecamatan Bagan Sinembah dan Simpang Kanan. Sebagian besar penjualan untuk kelapa berupa buah dan kelapa cukil atau kopra. Pemerintah daerah terus berupaya mengembangkan potensi kelapa yang ada di Rokan Hilir. Pendidikan dan pelatihan serta mencari pasar untuk hasil olahan kelapa sangat diperlukan.

“Untuk komoditas Kelapa Sawit, yang menjadi tanaman primadona perkebunan saat ini. Sawit merupakan produk unggulan perkebunan yang paling banyak diminati oleh masyarakat Riau. Begitu juga di Kabupaten Rokan Hilir, masyarakat lebih memilih bertanam sawit dibandingkan dengan padi atau jenis tanaman lainnya,” sebut Bupati Rohil, Suyatno.

Dalam menjaga kualitas sawit di Rohil, Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir Melalui Dinas Perkebunan Rohil  menyerahkan bantuan 50 liter Racun(pestisida) merek Decis kepada dua kelompok Tani, yaitu kelompok tani maju bersama dan kelompok Tani Matahari kahuripan, yang berasal dari Kecamatan Simpang Kanan dan kecamatan Bagan Sinembah di Raya, bantuan tersebut diserahkan langsung oleh Bupati melalui Kepala Dinas Perkebunan Syahril S.Sos.

Syahril menyatakan bahwa dirinya cukup prihatin atas hama ulat api yang menyerang tanaman kelapa sawit milik warga, agar hama ulat tersebut tidak merambah untuk itu pihaknya harus melakukan penyemprotan dengan menggunakan racun hama. Dia juga menyebutkan bahwa bantuan ini adalah  merupakan bantuan tahap awal yang diberikan oleh Dinas Perkebunan Kabupaten Rokan Hilir dan Dinas Perkebunan Provinsi Riau kepada para petani yang tanaman kelapa sawitnya diserang ulat api.

"Ini baru tahap pertama kami serahkan untuk Perbaungan dan Bagan Sinembah Timur dan bantuan ini gratis, satu sen tidak kami pungut biaya, petani jangan segan menyampaikan permasalahan yang dihadapi terkait permasalahan pada tanaman perkebunan sawit yang sedang dihadapi. Bapak-bapak jangan segan kalau ada permasalahan maka silahkan laporkan kepada kami agar segera ditindak lanjuti karena tujuan kami ini tidak lain tidak bukan adalah untuk kesejahteraan pada petani," ucapnya.

Syahril menambahkan, agar penyerahan bantuan tidak terhalang oleh aturan ia menyarankan kepada kepada para kelompok Tani untuk membuatkan legalitas yang jelas. "Sekali lagi tolong kelompok Tani yang ada di Rohil buat suatu badan hukum, buat akta notaris jadi kalau ada bantuan mudah untuk disalurkan," jelasnya.

Syahril juga tak lupa menyampaikan apresiasi para pengurus kelompok Tani yang hadir. "Kepada Bapak yang hadir terima kasih sudah jauh-jauh datang kemari, pergunakanlah ini dengan baik kalau ada apa-apa lapor pak Tomy, atau bila perlu langsung laporkan langsung kepada saya. Lain kali Pak Tomy kalau ada bantuan seperti ini langsung saja diserahkan ke lapangan biar kita tahu kondisi riil di lapangan," ujarnya.(hum)

Kadishub Keluhkan Tumpukan Sampah Di Depan Halte TMP

October 19, 2018
PEKANBARU, TAMPAN - Kepala Dinas Perhubungan Kota Pekanbaru mengeluhkan adanya tumpukan sampah di depan Halte Bus Transmetro Pekanbaru. Pasalnya keberadaan sampah itu mengeluarkan bau busuk dan menggangu masyarakat yang hendak naik dan turun bus angkutan masal tersebut.   

"Tumpukan sampah di dekat Halte Bus TMP sangat menggangu sekali. Selain mengeluarkan bau tak sedap juga merusak keindahan Kota Pekanbaru," ungkap Kadishub, Kendi Harahap kepada wartawan, Jumat (19/10/2018). 

Kemudian, dirinya berharap kepada dinas terkait untuk segera melakukan pengangkatan terhadap tumpukan sampah itu dan menghimbau kepada masyarakat tidak lagi membuang sampah sembarangan.  

"Buanglah sampah pada tempatnya. Demi kenyamanan kita bersama, sehingga tercipta kota Pekanbaru yang aman, nyaman dan asri," ungkapnya lagi. 

Sebagai informasi halte yang ada tumpukan sampahnya berada di jalan Nangka tepatnya di depan Pasa Cik Puan Kota Pekanbaru.(dow)

source : beritapekanbaru

Polres Pelalawan Limpahkan Penanganan Kasus Karhutla PT LIH ke Polda Riau

October 14, 2018
PELALAWAN, PANGKALAN KERINCI - Polres Pelalawan melimpahkan penanganan kasus Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang terjadi di areal PT Langgam Inti Hibrindo (LIH) ke Polda Riau. Kebakaran diduga melanda lahan Hak Guna Usaha (HGU) PT LIH bulan lalu.

Proses hukum terhadap kebakaran HGU milik PT LIH yang terjadi 26 September lalu dilanjutkan di Ditreskrimsus Polda Riau. Setelah data awal disiapkan Satuan Reserse Kriminal Polres Pelalawan usai kebakaran berhasil dipadamkan.

"Prosesnya di Polda sekarang. Masih tahap Pengumpulan Bahan dan Keterangan (Pulbaket)," ujar Kapolres Pelalawan, AKBP Kaswandi Irwan SIK, saat dikonfirmasi Wartawan, Jumat (12/10/2018) lalu.

Polres Pelalawan telah memasang police line di areal yang terbakar usai melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP).

Seperti diketahui kebakaran hebat terjadi di Desa Kuala Terusan Kecamatan Pangkalan Kerinci pada tanggal akhir September lalu. Api membakar semak belukar dan lahan kosong milik warga dengan cepat merembet ke kebun sawit masyarakat.

Api kembali menjalar masuk ke areal HGU PT LIH yang selama ini tidak dikelola lantaran menjadi langganan banjir. Seluas 10 hekar lahan gosong dilalap Si Jago Merah. Atas kejasama yang baik antara tim gabungan operasi pemadaman bersama RPK perusahan api dapat dipadamkan.(dow)

source : beritapelalawan

Mangsa Dua Ekor Kambing, Warga Tangkap Piton Ini

October 02, 2018
PELALAWAN, PANGKALAN KERINCI - Seekor ular piton sepanjang tujuh meter ditemukan berada dalam kandang ternak warga desa Kemang, kecamatan Pangkalan Kuras, Sabtu (29/9/18) lalu. Diduga kuat hewan bertubuh elastis ini, habis menyantap dua ekor kambing milik warga. 

Warga setempat menemukan ular, tersebut sulit bergerak pada pagi hari yang terkurung didalam kandang. Wargapun, tak kesulitan menangkap hewan ini.

"Ular itu bisa ditangkap dalam kandang kambing. Mungkin karena kekenyangan usai memakan kambing," jelas Kepala Desa Kemang, Carles, Senin (1/10/18). Informasi yang diperoleh dari warga, kata Carles ular piton atau orang melayu menyebutnya dengan nama ular sawah telah memakan dua ekor kambing milik Wandi. 

"Diduga dua ekor kambing yang dimakan ular itu. Karena kekenyangan, sehingga mudah untuk ditangkap," katanya. 

Setelah ditangkap dan diukur kata Carles, ular ini memiliki panjang tujuh meteran. "Kemarin setelah diukur panjang ularnya, tujuh meteran," tukasnya. 

Pada bagian tengah, ular ini, sambung Cales terlihat jelas dua bongkahan benda membengkak. "Diduga bongkahan ini, adalah kambing yang ditelan," tandasnya.(dow)

source : beritapelalawan

Pangkal Jembatan Jumrah Rohil Ambruk

September 16, 2018
ROKAN HILIR, RIMBA MELINTANG - Pangkal jembatan Jumrah ambruk setelah diterjang derasnya aliran sungai Rokan. Jembatan itu berada di Kepenghuluan Jumrah, Kecamatan Rimba Melintang, Kabupaten Rokan Hilir, Riau.

Jembatan Jumrah merupakan sarana utama penyebrangan bagi kendaraan yang melewati Ujung Tanjung ke Bagansiapiapi. Ambruknyapangkal jembatan berada pada cor beton yang berfungsi sebagai penyangga yang menghubungkan antara jembatan ke badan jalan.

''Disitu lah posisi yang runtuh akibat tergerus abrasi sungai jumrah," kata Kapolsek Rimba Melintang, Ipda Boy, Sabtu (15/9/2018).

Ambruknya pangkal jembatan pada Sabtu sore itu, kata Boy, akan berdampak pada aktivitas perekonomian masyarakat. Sebab jembatan itu tidak bisa dilewati kendaraan baik roda dua maupun roda empat.

Untuk sementara waktu, upaya yang dilakukan pihak kepolisian adalah dengan memasang traffick kun dan Policeline agar jalur jalan sebelah kiri dari arah ujung tanjung menuju arah Bagansiapiapi yang menghubungkan ke atas jembatan jumrah tidak dilintasi oleh kendaraan. Pihak kepolisian juga melakukan koordinasi dengan personil Poslantas simpang Poros untuk mengatur lalu lintas disekitar jembatan.

Sementara itu, salah seorang warga, Juni Rahmat meminta agar masyarakat lebih waspada melintasinya dan seluruh instansi terkait agar segera menangani kerusakan dijembatan itu.

Bagian Humas Pemkab Rohil menyebutkan bahwa Sekda sudah berkomunikasi dan berkoordinasi dengan PUPR Provinsi Riau termasuk juga Bupati juga sudah menghubungi Gubernur Riau.(dow)

source : beritarohil

Kota Pangkalan Kerinci Mulai Diselimuti Asap

September 14, 2018
PELALAWAN, PANGKALAN KERINCI - Tiga hari terakhir Kota Pangkalan Kerinci dilanda Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), tepatnya di Jalan Lingkar Timur.

Api melalap lahan semak belukar seluas tiga hektar lebih.

Alhasil, udara di Pangkalan Kerinci mulai dicemari kabut asap sebagai dampai kebakaran yang terjadi. Asap terlihat jelas menutupi angkasa Pangkalan Kerinci mulai pagi hari. Namun masih tipis dan belum mengganggu aktivitas warga.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pelalawan, Hadi Penandio, saat dikonfirmasi terkait kabut asap tersebut membenarkan hal itu merupakan dampak dari Karhutla yang belum berhasil dipadamkan tim gabungan.

"Dari kemarin memang sudah kelihatan asapnya dan masih berlanjut sampai hari ini. Karena Karhutlanya ada di Pangkalan Kerinci dan sangat dekat. Makanya langsung terasa," tandas Hadi Penandio kepada , Jumat (14/9/2018).

Hadi Penandio menyatakan, proses pemadaman masih terus dilakukan personil gabungan di lokasi. (dow)

source : beritapelalawan

TPS Sementara di Jalan Garuda Resahkan Warga

September 13, 2018
PEKANBARU, TAMPAN - Meski mendapat penolakan dari masyarakat, namun Kepala Bidang (Kabid) Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Pekanbaru, Santi pasang badan terkait persoalan tempat penampungan sampah sementara di Jalan Garuda, Tampan.

Santi berdalih tempat penampungan sampah tersebut tempat penampungan sampah tersebut hanya tempat persingahan sementara. Sampah yang diangkut dari titik di pinggir jalan diangkut dengan menggunakan mobil pick up. Lalu ditumpuk di lokasi tersebut dan hari itu juga langsung di bawa ke TPA Muara Fajar.

"Sampah tidak ditimbun disana. Sampah dikumpulkan disana, hari itu juga langsung diangkat. Tidak ada sampah yang menginap disana. Jadi tidak ada masalah, kecuali sampah itu bermalam pasti ada sedikit mengeluarkan bau, di sanakan sampah tidak bermalam. Diangkut pakai mobil pick up ke sana, kemudian dimasukkan ke dalam mobil fuso lansung di bawa ke TPA. Jadi tidak bermalam disana," katanya, Rabu (12/9/2018).

Santi juga mengklaim bahwa tempat penampungan sampah sementara tersebut sudah mendapatkan izin dari warga yang ada disepadan dan ketua RT setempat.

"Itu sudah ada izinnya dari sepadan sama RT," ujarnya.

Sebelumnya, Ketua RT 05 Kelurahan Tobek Godang, Kecamatan Tampan Noviral membenarkan adanya lahan kosong di wilayahnya yang dijadikan tempat penampungan sampah. Namun Ia mengaku tidak pernah diberitahu terkait keberadaan tempat penampungan sampah tersebut.

"Tidak ada izin ke kami. Saya sudah telepon pak lurah juga tidak ada izinya," katanya, Rabu (12/9/2018).

Pihaknya mengaku sudah mendatangi lokasi tempat penampungan sampah sementara tersebut dan menyampaikan keberatan. Namun belum ada jawaban dari pihak perusahaan, sebab yang ada dilokasi tempat penampungan sampah tersebut hanya pekerja lapangan saja.

"Beberapa hari yang lalu kami sudah ke lokasi. Dan kami atas nama warga sekitar menyampaikan keberatan dengan keberadaan tempat pembuangan sampah itu," katanya.

Noviral membenarkan, keberadaan tempat penampungan sampah sementara di lahan kosong milik warga tersebut membuat masyarakat sekitar resah. Sebab selain menimbulkan bau tidak sedap, juga membuat jalan menjadi rusak.

"Itu kan merusak lingkungan," tuturnya.

Selain itu, pihaknya juga menyayangkan kepada pemilik tanah yang mengizinkan tanahnya dijadikan tempat pembungan sampah tanpa ada berkoordinasi dengan warga sekitar.

"Kami pun tidak tau siapa pemilik lahan itu, yang punya lahan itu siapa kami tidak tau. Kami pun heran juga kok pemilik lahanya tidak ada respon," katanya.

Seperti diketahui, warga di Jalan Garuda Kelurahan Tobek Godang, Kecamatan Tampan mengaku terganggu dengan keberadaan lahan kosong di sekitar tempat tinggalnya yang dijadikan tempat penampungan sampah sementara.

Lahan kosong yang dipagar keliling dengan menggunakan seng tersebut dijadikan tempat penampungan sampah oleh pihak ketiga yang mengangkut sampah di zona 1. Yakni PT Godang Tua Jaya yang mengangkut sampah di tiga kecamatan. Kecamatan Tampan, Payung Sekaki dan Marpoyan Damai.

Sampah yang diangkut dari tempat pembuangan sampah di pinggir jalan kemudian diangkut dan dibawa ke tempat ini. Mobil yang mengangkut sampah dari pinggir-pinggir jalan tidak langsung membawa sampah tersebut ke Tempat Pembungan Akhir (TPA) di Muara Fajar Rumbai. Namun sampah tersebut ditumpuk di lahan kosong yang berada di Jalan Garuda, tidak jauh dari Puskesmas Rawat Inap.

Ardi salah seorang warga yang berada di Jalan Garuda mengaku terganggu dengan keberadaan tempat penampungan sampah sementara tersebut. Sebab dengan adanya tempat penampungan sampah tersebut udara di sekitar tempat tinggalnya sudah tercemar bau tidak sedap yang ditimbulkan akibat tumpukan sampah yang ditumpuk di lahan kosong tersebut.

"Bukan hanya bau busuk saja yang kami keluhkan. Tapi jalan akses masuk ke permukiman kami juga rusak. Karena truk itu keluar masuk kesini untuk mengakut sampah," katanya.

Ardi mengungkapkan, setelah sampah ditumpuk dilahan kosong tersebut. Maka selanjutnya sampah tersebut diangkut dengan menggunakan truk bak terbuka untuk dibawa ke TPA muara fajar.

"Sampah dari pinggir jalan itu diangkut kesini pakai mobil pick up. Kemudian ditumpuk dilahan kosong itu, lalu dibawa pakai truk ke TPA Muara Fajar. Truk itukan berat, jadi tidak cocok dengan kelas jalan perkuminan seperti jalan Garuda ini," ujarnya.

Menurut keterangan Ardi, lokasi lahan kosong yang dijadikan tempat penampungan sampah sementara tersebut sudah berlangsung sejak sebulan belakangan ini.

"Masyarakat sudah mulai resah dengan bau busuk ini. Kami minta pemerintah kota bisa mencarikan solusinya," katanya.(dow)

source : beritapekanbaru

67 Unit Rumah di Tanjung Pasir Inhil Rusak Akibat Puting Beliung

September 08, 2018
INDRAGIRI HILIR, TANAH MERAH - Angin puting beliung membuat 67 rumah warga di Tanjung Pasir Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) rusak berat. Ini untuk kesekian kalinya bencana angin puting beliung menerpa Kecamatan Tanah Merah, Kabupaten Inhil.

Kali ini 67 unit bangun dan rumah pemukiman warga di Desa Tanjung Pasir Kecamatan Tanah Merah, Kabupaten Inhil, Riau mengalami rusak berat dan rusak ringan akibat bencana tersebut, Jumat (7/9/2018) sekira pukul 14.30 WIB.

Rincian bangunan dan rumah yang terkena bencana alam angin puting beliung antara lain, 2 Kantin pasar rusak berat, 20 rumah rusak berat, 47 rumah rusak ringan. Berutung tidak ada korban jiwa dalam kejadian musibah angin puting beliung tersebut, namun kerugian ditaksir mencapai lebih kurang Rp. 600 juta.

“Terjadi hujan deras disertai angin puting beliung sehingga membuat rumah warga Porak – poranda,” ujar Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Inhil, Yuspik, SH, saat dikonfirmasi awak media.

Lebih lanjut Yuspik menuturkan, BPBD, pemerintah Kecamatan Tanah Merah dan Polsek Tanah Merah serta masyarakat setempat sedang melakukan pendataan terhadap identitas pemilik rumah dan mengevakuasi barang-barang milik pemilik rumah yang masih bisa diselamatkan.

“Tim Reaksi Cepat BPBD telah berangkat ke lokasi melakukan bantuan pembersihan lokasi. Kami juga melakukan koordinasi ke Tim terkait dan mempersiapkan bantuan logistik kepada korban,” jelasnya.

Sementara itu, terhadap warga pemilik rumah yang mengalami musibah angin puting beliung ditempatkan dirumah kerabat dan di rumah masyarakat. (dow)

source : beritainhil

Masuk Kampung, Beruang Rusak Rumah dan Kandang Ayam Warga di Pelalawan

September 07, 2018
PELALAWAN, PAGKALAN KERINCI -  Dusun Teluk Mundur Kelurahan Pelalawan Kecamatan Pelalawan Kabupaten Pelalawan. eror beruang ini sudah berjalan sejak dua pekan yang lalu hingga meresahkan warga sekitar. enurut Ketua RW 06 SP II Dusun Teluk Mundur Kelurahan Pelalawan Kecamatan Pelalawan, Nasib, serangan beruang di kampung mereka mulai terpantau dua minggu lalu.

Hewan ternak warga berupaya ayam dan unggas lainnya dimangsa hidup-hidup oleh beruang tersebut.

"Pokoknya sudah banyak ayam warga yang dimakan beruang itu. Mungkin ratusan ada tuh," beber Nasib kepada Wartawanui sambungan selulernya, Jumat (7/9/2018).

Nasib menjelaskan, warga sering bertemu beruang tersebut saat masuk kampung dan keluar menuju hutan.Memang Dusun Teluk Mundur yang biasa disebut dengan nama Teluk Mundou ini dikeliling hutan yang menjadi habitat beruang.

Tim gabungan Bhabinkamtibmas, pemerintah Kelurahan Pelalawan, dan BKSDA melakukan cek TKP ke rumah dan kandang ternak warga yang dirusak beruang liar di Dusun Teluk Mundur, Kamis (6/9/2018). Kawanan beruang liar masuk ke kampung dan meresahkan warga satu pekan terakhir.

Sedikitnya ada lima ekor beruang liar yang selama ini masuk ke permukiman, merusak kandang ternak dan memangsanya dan bahkan ada rumah warga yang dirusak.Ada dua jenis beruang yang sering terlihat masuk kampung yakni beruang api yang berwarna merah dan beruang madu berwarna hitam.

"Ada satu ekor yang besar. Kalau berdiri lebih besar dari drum minyak," tambahnya.

Setiap malam pasti ada warga yang kehilangan ternak dan tidak hanya disatu tempat. atu hari bisa sampai tiga hingga empar warga yang ternaknya dimakan binatang buas itu. a mengakui belum pernah terjadi konflik fisik antara penduduk dengan beruang tersebut.

Namun masyarakat kuatir dan ketakutan jika sampai beruang menyerang warga disaat bertemu tanpa sengaja. ntuk menjaga keamanan kampung, warga melakukan ronda setiap malam dan menyusuri permungkiman penduduk. ntuk mengahalau beruang jika masuk dan mengamankan warga yang ketakutan.

"Kalau malam tak ada lagi warga yang berani keluar. Takut jugalah pak. Memang belum ada yang diserang beruang," tandasnya.

Nasib menyatakan baru kali ini beruang jojoran masuk ke kampung mereka. elama ini hanya sekali-sekali saja dan kemudian masuk ke hutan lagi, paling hanya sekali tiga bulan. asyarakat juga heran mengapa beruang sangat intensi mendatangi kampung dan memangsa hewan ternak.

Warga berharap beruang-beruang liar itu segera ditangkap agar tidak menciptakan rasa takut dan menghindari konflik dengan manusia.(dow)

source : beritapelalawan

Ratusan Hektar Lahan di Sungai Sembilan Diduga Sengaja Dibakar

August 20, 2018
DUMAI, SUNGAI SEMBILAN - Serangkaian Kebakaran Lahan dan Hutan (Karlahut) yang terjadi diduga kuat ulah oknum tak bertanggung jawab. Mereka memanfaatkan kondisi cuaca panas untuk membuka lahan di Kecamatan Sungai Sembilan, Kota Dumai.

Oknum tersebut membuka lahan dengan cara membakar. Dansubsatgas Karlahut Dumai, Letkol (inf) Horas Sitinjak menduga lahan gambut yang terbakar sengaja dibakar. Ada dugaan oknum tersebut meracuni lebih dulu tumbuhan di lahan yang hendak dibakar. Mereka pun membakar lahan yang mulai mengering.

"Kami sempat temukan racun tumbuhan di lokasi kebakaran lahan. Jadi kita duga kuat sengaja dibakar," tegas Horas kepada Wartawan di sela pemadaman, Minggu (19/7/2018).

Seratus hektar lahan di Kecamatan Sungai Sembilan sudah terbakar di sana selama lebih dari satu pekan. Ada lima titik api menyebar di dua kelurahan.

Titik terparah berada di Jalan Bunga. Luas lahan gambut yang terbakar di sana mencapai 50 hektar. Tim gabungan hingga Minggu masih berjibaku memadamkan api yang melahap puluhan hektar lahan di sana. Karlahut di Jalan Sinarwajo juga menjadi perhatian.

Lahan yang terbakar di sana mencapai 30 hektar. 75 personel gabungan TNI/Polri membantu upaya pemadaman di lokasi karlahut. (dow)

source : beritadumai

Limbah Sagu Cemari Kawasan Strategis Budidaya Ikan Kerambah

August 17, 2018
KEP MERANTI, SELATPANJANG - Dinas Perikanan Kabupaten Kepulauan Meranti kesulitan menentukan kawasan budidaya ikan kerambah. Pasalnya, sebagian kawasan perairan yang dinilai strategis untuk mengembangkan budidaya ikan kerambah tercemar oleh limbah sagu.

"Sungai Suir sebenarnya sangat strategis untuk dijadikan kawasan budidaya ikan kerambah, namun tercemar oleh limbah sagu," ujar Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Kepulauan Meranti, Anwar Zainal, Kamis (16/8/2018).

Strategisnya sungai Suir menjadi kawasan budidaya lantaran ombak laut tidak sampai ke sungai tersebut. Sehingga kerambah ikan milik nelayan aman dari hantaman ombak.

"Kalau sering dihantam ombak, kerambah nelayan gampang rusak," ujar Anwar Zainal.

Tidak hanya aman dari hantaman ombak, kawasan sungai Suir juga tidak menganggu jalur pelayaran laut. Sebab, sungai tersebut jarang dilewati oleh kapal-kapal cepat dan kapal kargo.

"Saat ini, nelayan kerambah terpaksa memasang kerambahnya di selat-selat yang ombaknya cukup kuat dan juga digunakan sebagai jalur pelayaran," ujar Anwar Zainal.(dow)

source : beritameranti